Kepercayaan Masyarakat Tianghoa, Tugu Bersejarah Perjanjian Setan Dan Manusia - GoRohil- Portal Berita Rokan Hilir

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

PASANG IKLAN ANDA DISINI

Monday, October 30, 2017

Kepercayaan Masyarakat Tianghoa, Tugu Bersejarah Perjanjian Setan Dan Manusia




GoRohil.com –Bagansiapiapi– Tempat wisata kali ini cukup unik dan menarik bagi masayarakat yang belum mengetahui, Tugu Perjanjian Setan dan Manusia di Kota Bagansiapiapi (Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau) yang sudah cukup terkenal sejarah pembuatannya. 
 
Tidak banyak cerita yang bisa digali dari tugu bersejarah tersebut. Akan tetapi, cerita yang cukup mahsyur dari sejarah berdirinya tugu tersebut di awali pada saat tahun naga atau tepatnya pada tahun 1928. Tugu Perjanjian Setan dan Manusia itu terletak ada tiga tempat.

1.  Di pinggiran jalan persimpangan empat Jalan Kelenteng tepatnya di samping toko obat, 2.  Di pinggiran jalan Perdagangan tepatnya di Gang masuk ke Jalan Manggis, 3. Di pinggiran jalan Perdagangan tepatnya di simpang empat  didepan Gang  Mangga Hotel Luky Star, yang berwana merah dan kuning dengan ukiran huruf-huruf Cina yang memiliki makna tersendiri. Tiga Tugu ini konon dulunya merupakan bentuk simbol perjanjian antara setan atau roh-roh dengan manusia yang terjadi pada saat tahun naga tersebut.

Sejarah Tugu Perjanjian Setan Dan Manusia

Diceritakan pada sekitar tahun 1928, telah terjadi kehebohan dan kegaduhan di banyak tempat di Bagansiapiapi tersebut. Dimana tempat-tempat perjudian, tempat minum-minuman keras, rumah-rumah prodeo banyak mengalami peristiwa yang tidak masuk akal. Ditempat pelacuran sering terdengar suara orang sedang mandi di kamar mandi, namun ketika dilihat ternyata tidak ada orang yang sedang mandi.

Begitu juga di tempat perjudian, batu-batu mahyong sering berputar-putar sendiri sehingga menimbulkan banyak kegaduhan. Di kedai kopi misalnya kerap terlihat kaki manusia diatas meja. Kontan, para penghuninya dibuat bingung dan mereka segera mengadu kepada para biksu Budha yang ada di Bagansiapiapi untuk mengantisipasi hal yang terjadi tersebut.

Namun yang terjadi, para biksu yang ada di Bagansiapiapi sendiri tidak mampu berbuat banyak akan kejadian tersebut. Mereka lalu memanggil biksu Budha lainnya yang berasal dari Singapura dan Taiwan untuk dimintai bantuan mengatasi permasalahan yang terjadi. 

Setelah dicek oleh para biksu asal Taiwan dan Singapura tersebut, ternyata kegaduhan tersebut ditimbulkan oleh para roh-roh yang sebelumnya mati di laut. Maka atas hal ini, diupayakan lah perjanjian antara pihak biksu dengan pihak roh-roh dari laut tersebut.

Langkah awal dari isi perjanjian antara biksu dengan roh-roh tersebut adalah diberi kesempatan bagi para roh untuk menghibur diri selama satu pekan lamanya. Di seluruh pelosok kota Bagansiapiapi didirikan tempat-tempat hiburan simbolik terbuat dari bambu dan kertas, ada kedai kopi,ada tempat pengisapan candu, perjudian dan lain lainnya. Semuanya terbuat dari bambu dan kertas secara simbolik. Ada panggung sandiwara, ada rumah bordir dengan wanita PSK-Nya, ada kedai kopi, ditempat-tempat inilah para syetan dipersilahkan menghibur selama satu minggu sebagai tahapan awal dari perjanjian yang akan disepakati.

Setelah para syetan puas bergentayangan selama satu minggu untuk menghibur diri mereka di tempat-tempat yang telah disediakan, maka selanjutnya para setan tersebut harus kembali bergentayangan di laut, tidak boleh lagi membuat kegaduhan di daratan seperti yang telah dilakukan sebelumnya.

Sebagai bukti dari hasil perjanjian yang telah disepakati tersebut maka dibuatlah tiga buah prasasti atau tugu yang bertuliskan di atasnya LAM HU OMITOHUD yaitu nama sang Budha. Maka setelah tugu tersebut didirikan, setiap kali syetan-syetan itu akan kembali ke darat, maka para syetan itu akan membaca tugu perjanjian yang telah dibuat tersebut dan mereka pun biasanya akan kembali lagi ke laut.

Konon ceritanya, tiga tugu perjanjian yang telah dibuat tersebut tidak boleh hilang dari tempat tersebut. Apabila Tugu Perjanjian Setan tersebut hilang maka konon perjanjian yang telah dibuat dengan syetan akan batal, begitu menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa setempat.

Konon sejauh ini telah puluhan tahun lamanya perjanjian tersebut disepakati, namun belum ada kabar atau kejadian syetan melanggar hasil dari perjanjian tersebut. Hikmah pelajaran yang dapat dipetik adalah ternyata syetan bisa lebih patuh dan disiplin dibandingkan dengan manusia itu sendiri. 

Konon syetan selalu menunggu tugu tersebut supaya lenyap. Dengan demikian maka berarti perjanjian yang sudah disepakati akan batal, dan para syetan pun akan kembali bebas ke daratan untuk bisa mengganggu manusia seperti sebelumnya. Demikian kepercayaan masyarakat setempat terhadap keberadaan Tugu Perjanjian Setan dan Manusia tersebut.

Sebagai informasi bahwa Kota Bagansiapiapi memiliki komunitas Tionghoa yang besar di Indonesia. Komunitas ini tersebar di hampir pelosok kota Bagansiapiapi. Klenteng sebagai tempat ibadahnya dapat dijumpai di sudut-sudut kota.**(Red)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Pasang Iklan Anda Disini